Utang Piutang Antara Suami Istri

Utang Piutang Antara Suami Istri secara hukum dapat dikatakan tidak ada atau tidak berlaku apabila pada saat pernikahan tidak ada perjanjian yang menyatakan bahwa harta dari hasil pernikahan dipisahkan. Utang Piutang Antara Suami Istri akan berlaku apabila perjanjian untuk hal tersebut diperjanjikan saat pernikahan berlangsung. Di dalam hukum perkawinan ada dua jenis harta yaitu harta bawaan atau harta yang didapat oleh masing-masing pihak dari suami-istri diluar pernikahan, sementara yang kedua adalah harta bersama yaitu harta yang diperoleh pada saat pernikahan dan dinyatakan sebagai milik bersama.

Berdasarkan Pasal 35 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang dimaksud harta bersama adalah harta yang diperoleh oleh Suami dan Istri selama dalam Perkawinan menjadi harta bersama. Apabila seorang suami meminjam uang kepada istrinya, llau ia berjanji akan memulangkan pinjaman tersebut dalam bentuk Giro namun di dalam perkawinan tidak ada kesepakatan bahwa harta yang diperoleh masing-masing selama pernikahan dipisahkan, maka giro dan uang yang diperoleh istri tetap menjadi harta bersama bagi suaminya.

Oleh karena itu, secara hukum tidak ada yang dinamakan utang suami Anda kepada istrinya. Dalam penggunaan harta bersama, memang harus ada persetujuan dengan pasangannya, sehingga dalam menggunakan uang yang dihasilkan sebagai harta bersama, seorang suami harus memminta persetujuan dari Istrinya terlebih dahulu seperti yang dijelaskan di dalam Pasal 36 ayat 1 UU Perkawinan.

Bila suami memberikan janji sebuah giro sebagai ganti hutangnya kepada istri namun pada dasarnya belum diberikan, maka sang istri tidak dapat mengajukan tuntutannya berdasarkan pertimbangan Pasal 242 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang mengatakan bahwa: yang dapat dikenakan hukuman pidana atas pemalsuan adalah setiap orang yang memberi atau membuat keterangan palsu di atas sumpah baik lisan maupun tulisan secara pribadi maupun oleh kuasanya dapat diancam pidana paling lama tujuh tahun.

Berdasarkan penjelasan UU Hukum Pidana, maka disimpulkan bahwa sang istri tidak dapat menuntut suaminya serta tidak dapat meminta uangnya kembali karena uang tersebut adalah harta bersama yang dapat digunakan oleh suami maupun suami atas persetujuan pasangan.

1 comment. Leave new

Assalamualaikum wr.wb. Saya mau tanya apa hukum nya jika istri menagih uang milik istri . Karena kebetulan waktu itu lagi kekurangan uang jadi sementara duit hasil jualan istri saya pakai dan sudah di ijin kan oleh istri sendiri untuk memakai uang tersebut ,, tetapi setelah itu istri menagih uang tersebut ?? Apa hukum nya ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

fourteen + 17 =