Status Hukum Tentang Wanita Bersuami Dua

Status Hukum Tentang Wanita Bersuami Dua

Status Hukum Tentang Wanita Bersuami Dua

Status Hukum Tentang Wanita Bersuami DuaApabila semisal kan ada sebuah kasus seorang wanita menikah dengan dua orang pria. Pria yang pertama adalah suami sah secara agama dan hukum dari pernikahan pertama. Sementara pria yang satunya lagi adalah suami sirih misalkan. Dari pernikahan anatara wanita tersebut dengan suami sah pertamnya tidak menghasilkan seorang ank. Sementara dari suami sirih nya dikaruniai seorang anak. Kemudian suaru saat terjadi kasus di mana si wanita menuntut suami pertama nya untuk menafkahi anak hasil dari pernikahan dengan suami kedua sirihnya. Nah, bagaimana menaggapi kasus yang seperti ini? untuk itu maka akan dijawab berdasarkan Status Hukum Wanita Bersuami Dua yang akan dijelaskan selanjutnya.

Wanita memiliki suami dua disebut poliandari, namun tindakan ini dalam hukum Islam dilarang. Bila suami sirih dari wanita tersebut tidak bertanggung jawab kepada anaknya, maka bisa saja si wanita menggugat secara hukum perceraian untuk melakukan talak terhadapnya. Dan bagi pihak suami pertama yang sah, bisa juga menggugat wanita tersebut dengan talak. Adapun ketentuan perceraian harus dipertimbangkan berdasarkan alasan-alasan yang disebutkan dalam pasal 116 Kompilasi Hukum Islam, diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Salah satu pihak berbuat zina
  2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut-turut tanpa izin dan alasan
  3. Salah satu pihak dipenjara 5 tahun setelah perkawinan berlangsung
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan
  5. Salah satu pihak tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami atau istri karena mendapat cacat badan atau penyakit
  6. Terjadi perselisihan dan pertengkaran yang membuat kedua pihak tidak dapat hidup rukun
  7. Suami melanggar taklik-talak
  8. Peralihan agama (murtad) dalam rumah tangga

Namun, wanita tersebut tidak berhak menggugat suami sah pertamanya untuk menafkahi anak hasil pernikahan dengan suami sirihnya. Hal ini karena seperti yang ditegaskan dalam pasal 100 Kompilasi Hukum Islam yang menyatakan bahwa anak yang lahir diluar perkawinan hanya memiliki hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya. Kesimpulannya, jadi suami sah pertama dari wanita tersebut tidak memilki hubungan nasab dengan anak dari hasil pernikahan sirihnya. Sehingga suami sah pertamanya tidak berkewajiban menafkahi, melindungi, mendidik atau pun merawat anak tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 3 =