Prosedur Jual Beli Tanah Hibah

Prosedur Jual Beli Tanah Hibah

 Sebelum dibahas mengenai prosedur jual beli tanah hibah, sebaiknya ketahui dulu apa itu tanah hibah? Tanah hibah adalah sebagian tanah tertentu yang dimiliki sesorang atas dasar pemberian orang tua. Tanah hibah bisa saja dimiliki atas nama dua orang atau lebih. Jika dalam suatu keluarga, salah satu ingin membeli tanah hibah adik atau kakanya itu sah saja dilakukan. Karena itu dalam hukum, dikeluarkanlah prosedur jual beli tanah hibah seperti yang dibahas di sini.

Jika ada kasus pembelian tanah hibah yang menjadi miliki bersama, kemudian seorang kakak ingin membeli tanah hibah atas nama adiknya, maka harus sesuai prosedur yang sah. Prosedur pembelian tanah hibah dimaksudkan agar tidak terjadi hak kepemilikan tanah yang tidak sah atau melanggar hukum perdata. Berikut ini ada 3 mekanisme pembelian tanah yang dimiliki secara bersama seperti yang dikutip dari pernyataan Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn melalui hukumonline.com.

  1. Jual beli sebagian tanah hibah adik oleh kakaknya dengan jumlah ½ bagian dilakukan dengan Akta Jual Beli.
  2. Membuat Akta Pembagian Bersama Tanah Hibah tersebut, dengan pajak dan jumlah uang yang dibayar sebesar ½ bagian dari hak tanah hibah milik adik.
  3. Ketentuan No. 1 berlaku, jika tidak ada sejumlah uang yang dibayarkan oleh bapak/ibu kepada adik.

Untuk perhitungan pajaknya sama saja, baik yang menggunakan akta jual beli atau mekanisme APBH (Akta Pembagian Bersama Tanah Hibah), yaitu hanya ½ dari yang seharusnya dibayarkan. Dan tidak ada pembebasan PPh kepada pemberi hibah. Mengapa? Karena hibah ini dilakukan antara adik kepada kakak. Sementara yang dibebaskan dari pajak adalah hibah dari orang tua ke anak atau dari anak ke orang tua.

Prosesnya jual beli tanah hibah sama seperti jual beli biasa. Harus ada pengecekan sertifikat tanah, pembayaran pajak pembeli dan penjual, penyerahan uang dan penandatanganan AJB/APHB. Setelah itu baru dilakukan balik nama sertifikat tanah.

Demikianlah prosedur jual beli tanah hibah yang dimiliki bersama atas adik dan kakak. Semoga menjadi informasi yang bermanfaat

3 comments. Leave new

Asalamualikum wr wb. Saya ada 3 pertanyaan…
pertama, apakah boleh si pemilik tanah menghibahkan tanahnya ke keponakannya tanpa sepengetahuan anak & istri (calon ahli waris), dengan kondisi si pemilik tanah merasa tertekan oleh orang tua si pemilik tanah utk menghibahkan tanahnya kpd keponakannya tsb??

Kedua, apakah hukumnya apabila si pemilik tanah melakukan AJB, dgn kondisi terpaksa n tertekan serta tidak merasa menerima pembayaran ataupun menandatangani bukti kwitansi apapun??

Ketiga, apakah hukumnya penjualan menggunakan surat kuasa dr pemilik tanah kpd keponakannya, akan tetpi pemilik tanah tdk memahami isi surat kuasa tsb n tanpa sepengetahuan (anak istri nya), sehingga berakibat si pemilik tanah merasa drugikan ketika hasil dari penjualan tidak dterima si pemilik tanah??

Mohon pencerahan n penjelasannya, terimakasih. Wslm.

ahmad fajri
14 June 2017 15:41

Apa boleh tanah hibah digadaikan ?

mohon pecerahanya
Sebelum menikah saya membeli rumah orangtua saya dengan persetujuan saudara2 dengan membayar sejumlah uang dan dilakukan secara kekeluargaan tanpa ada bukti tertulis.
Kemudian setelah saya nikah, saya ingin balik nama sertifikat rumah tersebut dari nama ayah (alm) ke nama saya sendiri, lalu oleh PPATK disuruh mengurus surat ahli waris dari Kepala desa setempat dan PPATK membuatkan surat penyerahak hak waris dari saudara2 ke saya sendiri. Kemudian sertifikat tanah/rumah berobah ke nama saya dengan status WARIS. (walaupun sebenarnay saya mendapatkan hak ini dengan membayar sejumlah uang).
Seandainya saya ingin menjual tanah/rumah ini, apakah diperlukan persetujuan istri saya?
Terimakasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

one × one =