Perbandingan Kerja Sama Bagi Hasil dan Waralaba

Perjanjian Kerjasama dibuat dengan tunduk pada syarat sahnya perjanjian berdasarkan isi Pasal 1320 KUHPerdata berikut ini:

  1. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya
  2. Kecakapan hal tertentu
  3. Suatu hal tertentu
  4. Suatu sebab yang halal

Ada dua bentuk perjanjian kerja sama usaha yaitu:

1. Perjanjian Bagi Hasil

Dikenal istilah Mudharabah, yaitu perjanjian kerja sama untuk menjalankan usaha di antara pemilik modal dengan orang tertentu yang memiliki keahlian untuk mengelola usaha yang tidak memiliki modal. Untuk perjanjian ini, pembagian keuntungan didasarkan atas perhitungan bagi hasil yang sudah ditentukan para pihak yang melakukan perjanjian ini. Perjanjian Mudharabah diatur di dalam hukum Islam. Mudharabah ini adalah sistem pemberian modal dengan asas syariah.

2. Perjanjian Waralaba

Pengertian Waralaba terdapat pada Pasal 1 angka 1 Permendag No. 53/M-DAG/PER/8/2012 tentang Penyelenggaraan Waralaba, yaitu “hak khusus yang dimiliki oleh orang perseroangan atau badan usaha terhadap sistem bisnis dengan ciri khas usaha dalam rangka memasarkan barang dan/atau jasa yang telah terbukti berhasil dan dapat dimanfaatkan dan/atau digunakan oleh pihak lain berdasarkan perjanjian waralaba.”

Ciri perjanjian waralaba terdapat pada Pasal 2 Permendag 53/2012 sebagai berikut:

  1. Memiliki ciri khas usaha
  2. Terbukti sudah memberikan keuntungan
  3. Memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang ditawarkan yang dibuat secara      tertulis
  4. Mudah diajarkan dan diaplikasikan;
  5. Adanya dukungan yang berkesinambungan
  6. Hak Kekayaan Intelektual yang telah terdaftar.

Jadi, perbedaan antara Bagi Hasil dengan Waralaba yaitu Perjanjian Bagi Hasil tidak perlu mengatur hal-hal yang wajib dimiliki Waralaba sebagaimana kriteria dimaksud di atas.

Kelebihan dan Kekuranga Kerja sama Bagi Hasil

Dari segi kelebihan Kerja Sama Bagi Hasil, Pengelolaan usaha dilakukan seutuhnya oleh pengelola usaha. Sementara pemilik modal hanya sebagai pengawas memberi pembinaan secara tidak langsung. Pemilik modal akan mendapat keuntungan tanpa harus bekerja pelaku usaha yang diberikan modal akan membagi keuntungannya.

Sementara untuk kelemahan, maju mundurnya usaha bergantung pada tujuan dan keahlian yang dimiliki Pengelola Usaha karena seluruh kendali dan supervisi pekerjaan di bawah pengelola usaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve − 10 =