Bolehkah Mengusir Anak Ketika Mereka Menyukai Sesama Jenis?

Bolehkah Mengusir Anak Ketika Mereka Menyukai Sesama Jenis?

Menyukai sesama jenis memang salah satu fenomena yang aneh dan tentu menjadi aib bagi si keluarga penyuka sesama jenis. Namun bagaimana jika hal ini terjadi pada seorang anak dibawah usia 18 tahun? Apakah dimata hukum orang tua diperbolehkan untuk mengusir anak tersebut? Tentu ini mejadi polemik bagi kedua orang tua dan si anak penyuka sesama jenis. Namun untuk menghindari terjadinya pelanggaran hukum dalam keluarga mari kita jawab pertanyaan “Bolehkah mengusir anak yang menyukai sesama jenis?” Berdasarkan jawaban dari seorang pakar hukum, Tri Jata Ayu Pramesti, S.H yang dikutip dari hukumonline.com. Menurut Tri Jata, seorang anak dibawah usia 18 tahun ada di bawah perlindungan undang-undang perlidungan anak No. 23 tahun 2002 pada pasal 1 yang bunyinya sebagai berikut:

“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Jadi jika kasus menyukai sesama jenis ini terjadi pada anak usia dibawah 18 tahun, jelas Orang tua tidak dibenarkan secara hukum untuk mengusir anaknya. Terlebih lagi UU perlindungan anak pasal 26 ayat 1 menyatakan bahwa orang tua bertanggung jawab untuk mengasuh dan memelihara anaknya. Apabila terjadi pengusiran secara paksa dan dibarengi dengan adanypemutusan pemenuhan kebutuhan finansial anak, maka secara hukum sah dikatakan sebagai bentuk kekerasan dan pelantaran anak dalam rumah tangga. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 1 Ayat 1 Undang-Undang No.23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, yang bunyinya sebagai berikut:

“Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.”

Pernyataan diatas juga diperkuat oleh pernyataan dalam UU PKDRT pasal 9 ayat 1 yang mengatakan bahwa seseorang dalam suatu rumah tangga dilarang keras menelantarkan seseorang di libgkungan rumah tangganya, menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.

Berdasarkan pernyataan di atas, maka disimpulkan bahwa menurut hukum, orang tua yang mengusir anak secara paksa serta dibarengi dengan pemutusan bantuan finansial merupakan bentuk KDRT yang dapat diancam sebagai tindakan pidana. Adapun sanksi yang diberikan kepada terdakwa penelantaran anak adalah hukuman penjara 3 tahun dan denda paling banyak sebesar RP 15.000.000 sesuai aturan dalam pasal 9 ayat 1 UU PKDRT berdasarkan Pasal 49 huruf a UU PKDRT.

Itulah jawaban dari pakar hukum, Tri Jata Ayu Pramesti, S.H, mengenai pernyataan “Bolehkah Mengusir Anak Yang Menyukai Sesama Jenis?” Yang disimpulkan bahwa tindakan tersebut adalah bentuk pelanggaran dari undang-undang perlindungan anak dan UU PKDRT. Semoga jawaban ini tidak menjadi polemik lagi bagi orang tua. Bagi si anak perlu lah dibekali pendidikan moral dan pantauan dari orang tua agar hal seperti ini tidak terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − nineteen =